Selasa, 31 Mei 2016

METODE PEMBELAJARAN SOSIODRAMA

A.    Konsep Dasar Metode Pembelajaran Sosiodrama
1.      Pengertian metode pembelajaran sosiodrama
Istilah sosiodrama berasal dari dua kata, yaitu socio yang berarti social, dan drama adalah drama yang berarti mendramatisasikan suatu kejadian atau peristiwa dalam keidupan manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, atau benturan dua orang atau lebih atau yang menggambarkan situasi sosial.[1]
Sedangkan, dalam Bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[2]
Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah soasial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan (materi yang disampaikan oleh guru) akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.[3]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa Sosiodrama adalah drama  yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat tentang masalah sosial dan politik.[4]
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa, metode sosiodrama merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswanya dapat memainkan suatu peranan dari prilaku sesorang dalam suatu peristiwa masalah-masalah sosial yang sedang terjadi dimasyarakat.
2.      Tujuan dan manfaat pembelajaran sosiodrama
Sosiodrama biasanya digunakan untuk menangani masalah yang berkaitan dengan masalah social seperti krisis kepercayaan diri jika dihadapan kelompok, menumbuhkan rasa kesetaikawanaan social dan rasa tanggung jawab serta untuk mengembangkan ketrampilan tertentu. Tujuan yang diharapakan dengan penggunaan motode sosiodrama antara lain :
a.       Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
b.      Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
c.       Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
d.      Merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah.[5]
Jika secara umum, tujuan dari metode pembelajaran sosiodrama, yaitu :
a.       Siswa berani mengemukakan pendapat secara lisan.
b.      Memupuk kerjasama diantara para siswa.
c.       Siswa menunjukkan sikap berani dalam memerankan tokoh yang diperankan.
d.      Melatih cara berinteraksi dengan orang lain.
e.       Agar seorang siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
f.       Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
g.      Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara cepat.
h.      Memberikan rangsangan kepada kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Apabila metode ini digunakan dalam pembelajaran dan dikendalikan dengan baik maka akan banyak manfaat yang di peroleh, diantaranya :
a.       Siswa tidak hanya mengerti persoalan-persoalan psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia. Ikut menangis bila sedih, rasa marah, emosi, dan gembira.
b.      Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.
c.       Membantu menghilangkan rasa malu, rendah diri dan kemurungan pada anak.
d.      Mendorong aktifitas, inisiatif dan kreatif sehingga mereka berpartisifasi dalam kegiatan bersama.[6]
B.     Langkah-langkah Penerapan Metode Pembelajaran Sosiodrama
Menurut Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah dalam bukunya “Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, langkah-langkah dalam pelaksanaan metode sosiodrama ialah sebagai berikut:[7]
1.      Persiapan. Fasilitator mengemukakan masalah dan tema yang akan disosiodramakan, dan tujuan permainan. Kemudian diadakan tanya jawab untuk memperjelas masalah dan peranan-peranan yang akan dimainkan.
2.      Membuat skenario sosiodrama.
3.      Menentukan kelompok yang akan memainkan sesuai dengan kebutuhan skenarionya, dan memilih individu yang akan memegang peran tertentu. Pemilihan pemegang peran dapat dilakukan secara sukarela setelah fasilitator mengemukakan ciri-ciri atau rambu-rambu masing-masing peran, usulan dari anggota kelompok yang lain berdasarkan kedua-duanya.
4.      Menentukan kelompok penonton dan menjelaskan tugasnya. Kelompok penonton adalah anggota kelompok lain yang tidak ikut menjadi pemain. Tugas kelompok penonton adalah untuk mengobservasi pelaksanaan permainan. Hasil observasi kelompok penonton merupakan bahan diskusi setelah permainan selesai.
5.      Pelaksanaan sosiodrama. Setelah semua peran terisi, para pemain diberi kesempatan untuk berembug beberapa menit untuk menyiapkan diri bagaimana sosiodrama itu akan dimainkan. Setelah siap dimulai permainan, masing-masing memerankan perannya berdasarkan imajinasinya tentang peran yang dimainkannya. Pemain diharapkan dapat memperagakan konflik-konflik yang terjadi, mengekspresikan perasaan-perasaan, dan memperagakan sikap-sikap tertentu sesuai dengan peranan yang dimainkannya. Dalam permainan ini diharapkan terjadi identifikasi yang sebesar-besarnya. Antara pemain maupun penonton dengan peran-peran yang dimainkannya.
6.      Evaluasi dan diskusi. Setelah selesai permainan diadakan diskusi mengenai pelaksanaan permainan berdasarkan hasil observasi dan tanggapan-tanggapan penonton. Diskusi diarahkan untuk membicarakan tanggapan mengenai bagaimana para pemain membawakan perannya sesuai karakteristik masing-masing peran, cara pemecahan masalah, kesan-kesan pemain dalam memainkan perannya. Balikan yang paling lengkap adalah melali video yang diambil pada waktu permainan berlangsung dan kemudian diputar kembali.
Dari pemaparan tersebut dapat kita simpulkan, bahwa dalam melaksanakan metode pembelajaran sosiodrama ini, terdapat enam langkah yang harus ditempuh, yaitu persiapan, membuat skenario, menentukan kelompok pemain, emenntukan kelompok penonton, pelaksanaan drama, serta evaluais dan diskusi.





C.    Kelebihan & Kelemahan Metode Pembelajaran Sosiodrama
M. Basyiruddin Usman dalam bukunya “Metodologi Pembelajaran Agama Islam”, menyebutkan kelebihan dan kelemahan metode sosiodrama sebagai berikut:[8]
1.      Kelebihan
a.       Siswa terlatih untuk dapat mendramatisasikan sesuatu dan juga melatih keberanian mereka;
b.      Kelas akan menjadi hidup karena menarik perhatian para siswa;
c.       Siswa dapat menghayati sesuatu peristiwa sehingga mudah mengambil suatu kesimpulan berdasarkan penghayatannya sendiri;
d.      Siswa dilatih dalam menyusun buah pikiran secara teratur.
2.      Kelemahan
a.       Banyak menyita waktu atau jam pelajaran;
b.      Memerlukan persiapan yang teliti dan matang;
c.       Kadang-kadang siswa berkeberatan untuk melakukan peranan yang diberikan karena alasan psikologis, seperti rasa malu, peran yang diberikan kurang cocok dengan minatnya, dan sebagainya;
d.      Bila dramatisasi gagal, siswa tidak dapat mengambil suatu kesimpulan.
Sedangkan Roestiyah N.K dalam bukunya “Didaktik Metodik”, hanya menjelaskan tentang kelebihan metode pembelajaran sosiodrama ini. Di anatarnya adalah sebagai berikut:[9]
1.      Memberi kesempatan pada siswa di dalam mengahadapi masalah sosial, menempatkan diri pada tempat orang lain.
2.      Meluaskan pandangan siswa.
3.      Memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain, beserta masalahnya menempatkan diri sendiri di tempat orang lain.
Adapun cara untuk mengatasi kelemahan metode sosiodrama ini, ialah sebagai berikut:
1.      Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan metode ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang akan berperan masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu.
  1. Guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia mampu menjelaskan dengan baik dan menarik sehingga siswa terangsang untuk berusaha memecahkan masalah itu.
  2. Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan yang pertama.
  3. Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu harus diusahakan agar para pemain berbicara dan melakukan gerakan jangan sampai banyak variasi yang kurang berguna.[10]
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari metode ini tidak berbeda dengan manfaatnya yang sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Dan dari sini dapat kita ketahui bahwa di samping ada kelebihan dari metode ini, ada pula kelemahannya. Namun, kelemahannya dapat diminimalisir dengan cara-cara tersebut di atas, dan dalam pelaksanaannya haruslah sesuai dengan materi, lingkungan, serta kondisi peserta didik itu sendiri.
D.    Penetapan Materi Metode Pembelajaran Sosiodrama
Metode sosiodrama ini sangat cocok digunakan untuk materi pembelajaran Bahasa Indonesia dan juga sejarah.
Dalam konteks pembelajaran pendidikan agama Islam, metode sosiodrama bisa digunakan dalam pengajaran akhlakul karimah dan sejarah Islam. Sebagai contoh, dalam mengajarkan tema birrul walidain (berbuat baik kepada orangtua) seorang guru agama bisa membuat metode sosiodrama sebagai metode untuk menyampaikan materi tersebut.
Pertama kali, guru agama menentukan tema besar tentang birrul walidain. Selanjutnya guru memberikan contoh kasus adanya pertentangan pendapat antara anak dengan orangtuanya, bahkan tidak jarang terjadi kontak fisik yang tidak diinginkan. Setelah itu, guru meminta sekelompok siswa membuat skenario untuk ditampilkan pada pertemuan selanjutnya.
Melalui tampilan yang dilakukan sekelompok siswa, kelompok lain diharapkan memberikan komentar dan tanggapan terhadap tampilan temannya serta memberikan makna terhadap tema yang ditampilkan.[11]
E.     Aplikasi Metode Pembelajaran Sosiodrama
Berikut ini adalah contoh aplikasi metode pembelajaran sosiodrama pada materi Akhlaq:
Mata Pelajaran               : Pendidikan Agama Islam
Satuan Pendidikan         : ..................
Kelas/Semester               : ..................
Materi                              :
1        Pengertian perilaku birrul walidain.
2        Praktek contoh perilaku birrul walidain.
3        Praktek perilaku birrul walidain dalam kehiduan sehari-hari.
Standar Kompetensi      : Membiasakan perilaku birrul walidain.
Kompetensi Dasar          :
1.1. Menjelaskan pengertian Pengertian perilaku birrul walidain.
1.2. Memberikan contoh perilaku birrul walidain.
1.3.Membiasakan perilaku birrul walidain dalam kehidupan sehari –hari.
Indikator                          :
1.1.Siswa mampu menjelaskan pengertian Pengertian perilaku birrul walidain.
1.2.Siswa mampu memberikan contoh perilaku birrul walidain.
1.3.Siswa mampu membiasakan perilaku birrul walidain dalam kehidupan sehari –hari.
Kegiatan pembelajaran
No
Kegiatan guru
Kegiatan siswa
Waktu
Pendahuluan
20 menit
1.
Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran, yaitu Birrul Walidain.
Memperhatikan penjelasan dari guru tentang topik yang akan dibahas, yaitu topik Birrul Walidain. Sehingga siswa tahu bahwa tujuan dalam pembelajaran yang ingin dicapai adalah mereka dapat mendeskripsikan serta mempraktekkan perilaku yang baik terhadap orang tua.
5 menit
2.
Mengajak siswa mengingat kembali materi sebelumnya sebagai materi prasyarat materi pelajaran yang akan dibahas hari ini.
Memberi respon guru dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mengenai materi-materi sebelumnya.
10 menit
3.
Menyampaikan pada siswa bahwa untuk kegiatan pembelajaran hari ini siswa akan berpura-pura sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu kegiatan yang berkaitan dengan Birrul Walidain.
Memperhatikan penjelasan dari guru. Diharapkan siswa akan bertanya mengenai kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.
5 menit
Kegiatan inti

1.
Mengamati
10 menit

Memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan diperankan, misalnya adanya pertentangan pendapat antara anak dengan orangtuanya, bahkan tidak jarang terjadi kontak fisik yang tidak diinginkan, kemudian datang seorang ustad yang memberi nasehat kepada anak tersebut. Maka siswa diberikan gambaran apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam transaksi tersebut.
Memperhatikan penjelasan dari guru agar tidak mengalami kesulitan ketika melaksanakan kegiatan bermain peran.

2.
Menanya
10 menit

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan sosiodrama.
Bertanya mengenai semua yang berkaitan dengan kegiatan bermain peran yang akan dilakukan.

3.
Mengeksplorasi
15 menit

Guru beserta murid mendiskusikan dalam pembuatan skenario drama yang akan dimainkan dalam pembelajaran tersebut.

Menetapkan pemain yang akan terlibat dalam Sosiodrama, peranan yang harus diperankan oleh pemeran dan waktu yang disediakan untuk melakukan kegiatan sosiodrama, dan menetapkan kelompok penonton.
Guru beserta murid mendiskusikan dalam pembuatan skenario drama yang akan dimaninkan dalam pembelajaran tersebut.



Menentukan kelompok pemain yang akan terlibat berdasarkan kesepakatan semua siswa dan persetujuan guru.

Menentukan kelompok penonton berdasarkan kesepakatan semua siswa dan persetujuan guru.

Menentukan peranan yang dimainkan oleh setiap pemain berdasarkan kesepakatan semua siswa dan persetujuan guru.

Memperhatikan penjelasan dari guru mengenai waktu yang diberikan kepada pemain untuk memainkan perannya.

4.
Mengasosiasi
30 menit

Guru memperhatikan kelompok pemeran yang sedang melakukan tugasnya.

Apabila ketika sosiodrama sedang berlangsung ada pemeran yang kesulitan, guru dapat memberikan bantuan.
kelompok penonton memperhatikan kelompok pemeran yang sedang melakukan tugasnya.
Melaksanakan pemeranan Sosiodrama.

5.
Mengkomunikasikan
30 menit

Melakukan diskusi tentang kegiatan Sosiodrama yang baru saja dilakukan khususnya pada kegiatan yang mengarah pada konsep Birrul Walidain.
Memberikan tes secara individu kepada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
Siswa yang memainkan peran dapat membagi pengalamannya pada siswa yang tidak memainkan peran.
Siswa menjawab pertanyaan guru mengenai konsep Birrul Walidain dengan menceritakan kejadian-kejadian dalam Sosiodrama yang berhubungan dengan konsep-konsep tersebut.
Mengerjakan tes secara individu

Kegiatan Penutup
20 menit
1.
Membimbing siswa membuat
rangkuman tentang materi pembelajaran hari ini
Membuat rangkuman tentang materi
pembelajaran hari ini dengan bimbingan dari guru.

2.
Melakukan refleksi kegiatan pembelajaran
melakukan refleksi kegiatan pembelajaran


Memberikan PR.

Menyuruh siswa untuk membuat kelompok peran yang terdiri dari 4 orang untuk melakukan kegiatan Sosiodrama pada sub materi selanjutnya yang dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.
Mencatat PR yang diberikan oleh guru.
Mendengarkan informasi tugas kelompok yang diberikan oleh guru





[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidkan (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006 ), h. 158
[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h. 184
[3] Wina Sanjaya. Strategi ...., ibid.,  h. 158
[4] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), h. 855
[5] Syaiful Bahri dan Zain, Konsep Strategi Belajar Mengajar ( Jakarta : Rineka Cipta, 1995 ), h. 100
[6] Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar ( Bandung : Pustaka Setia, 2005 ), h. 81.
[7] Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009), h. 82-83
[8] M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 51-52
[9] Roestiyah N.K, Didaktik Metodik (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 78
[10] Bayu Gilang Purnomo. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran. 2011. http://purnama-bgp.blogspot.com/2011/11/metode-sosiodrama-dan-bermain-peran_01.html. Diakses pada tanggal 08 April 2015.
[11] Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode ..., ibid., h. 83

Tidak ada komentar:

Posting Komentar