A.
Konsep Dasar Metode Pembelajaran Sosiodrama
1.
Pengertian metode pembelajaran sosiodrama
Istilah sosiodrama berasal dari
dua kata, yaitu socio yang berarti social, dan drama adalah drama yang
berarti mendramatisasikan suatu kejadian atau peristiwa dalam keidupan manusia
yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, atau benturan dua orang atau
lebih atau yang menggambarkan situasi sosial.[1]
Sedangkan, dalam Bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah
strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[2]
Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran
bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah soasial, permasalahan yang
menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba,
gambaran keluarga yang otoriter dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman
dan penghayatan (materi yang disampaikan oleh guru) akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk
memecahkannya.[3]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa
Sosiodrama adalah drama yang bertujuan memberikan informasi kepada
masyarakat tentang masalah sosial dan politik.[4]
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan
bahwa, metode sosiodrama
merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswanya dapat memainkan suatu
peranan dari prilaku sesorang dalam suatu peristiwa masalah-masalah sosial yang
sedang terjadi dimasyarakat.
2.
Tujuan dan manfaat pembelajaran sosiodrama
Sosiodrama biasanya digunakan untuk menangani masalah yang berkaitan dengan
masalah social seperti krisis kepercayaan diri jika dihadapan kelompok,
menumbuhkan rasa kesetaikawanaan social dan rasa tanggung jawab serta untuk
mengembangkan ketrampilan tertentu. Tujuan yang diharapakan dengan
penggunaan motode sosiodrama antara lain :
a.
Agar siswa
dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
b.
Dapat
belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
c.
Dapat
belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara
spontan.
Jika secara
umum, tujuan dari metode pembelajaran sosiodrama, yaitu :
a.
Siswa
berani mengemukakan pendapat secara lisan.
b.
Memupuk
kerjasama diantara para siswa.
c.
Siswa
menunjukkan sikap berani dalam memerankan tokoh yang diperankan.
d.
Melatih
cara berinteraksi dengan orang lain.
e. Agar seorang siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang
lain.
f. Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
g. Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok
secara cepat.
h. Memberikan rangsangan kepada kelas untuk berpikir dan memecahkan
masalah.
Apabila metode ini digunakan
dalam pembelajaran dan dikendalikan dengan baik maka akan banyak manfaat yang
di peroleh, diantaranya :
a.
Siswa
tidak hanya mengerti persoalan-persoalan psikologis, tetapi mereka juga ikut
merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama
manusia. Ikut menangis bila sedih, rasa marah, emosi, dan gembira.
b.
Siswa
dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka
tentang orang lain.
c.
Membantu
menghilangkan rasa malu, rendah diri dan kemurungan pada anak.
d.
Mendorong
aktifitas, inisiatif dan kreatif sehingga mereka berpartisifasi dalam kegiatan
bersama.[6]
B. Langkah-langkah Penerapan Metode Pembelajaran Sosiodrama
Menurut Ahmad Munjin
Nasih dan Lilik Nur Kholidah dalam bukunya “Metode dan Teknik Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam”, langkah-langkah dalam pelaksanaan metode
sosiodrama ialah sebagai berikut:[7]
1. Persiapan. Fasilitator mengemukakan masalah dan tema yang akan
disosiodramakan, dan tujuan permainan. Kemudian diadakan tanya jawab untuk
memperjelas masalah dan peranan-peranan yang akan dimainkan.
2. Membuat skenario sosiodrama.
3. Menentukan kelompok yang akan memainkan sesuai dengan kebutuhan
skenarionya, dan memilih individu yang akan memegang peran tertentu. Pemilihan
pemegang peran dapat dilakukan secara sukarela setelah fasilitator mengemukakan
ciri-ciri atau rambu-rambu masing-masing peran, usulan dari anggota kelompok
yang lain berdasarkan kedua-duanya.
4. Menentukan kelompok penonton dan menjelaskan tugasnya. Kelompok penonton
adalah anggota kelompok lain yang tidak ikut menjadi pemain. Tugas kelompok
penonton adalah untuk mengobservasi pelaksanaan permainan. Hasil observasi
kelompok penonton merupakan bahan diskusi setelah permainan selesai.
5. Pelaksanaan sosiodrama. Setelah semua peran terisi, para pemain diberi
kesempatan untuk berembug beberapa menit untuk menyiapkan diri bagaimana
sosiodrama itu akan dimainkan. Setelah siap dimulai permainan, masing-masing
memerankan perannya berdasarkan imajinasinya tentang peran yang dimainkannya.
Pemain diharapkan dapat memperagakan konflik-konflik yang terjadi,
mengekspresikan perasaan-perasaan, dan memperagakan sikap-sikap tertentu sesuai
dengan peranan yang dimainkannya. Dalam permainan ini diharapkan terjadi
identifikasi yang sebesar-besarnya. Antara pemain maupun penonton dengan peran-peran
yang dimainkannya.
6. Evaluasi dan diskusi. Setelah selesai permainan diadakan diskusi mengenai
pelaksanaan permainan berdasarkan hasil observasi dan tanggapan-tanggapan
penonton. Diskusi diarahkan untuk membicarakan tanggapan mengenai bagaimana
para pemain membawakan perannya sesuai karakteristik masing-masing peran, cara
pemecahan masalah, kesan-kesan pemain dalam memainkan perannya. Balikan yang
paling lengkap adalah melali video yang diambil pada waktu permainan
berlangsung dan kemudian diputar kembali.
Dari pemaparan tersebut dapat kita simpulkan, bahwa
dalam melaksanakan metode pembelajaran sosiodrama ini, terdapat enam langkah
yang harus ditempuh, yaitu persiapan, membuat skenario, menentukan kelompok
pemain, emenntukan kelompok penonton, pelaksanaan drama, serta evaluais dan
diskusi.
C. Kelebihan & Kelemahan Metode Pembelajaran Sosiodrama
M. Basyiruddin Usman
dalam bukunya “Metodologi Pembelajaran Agama Islam”, menyebutkan
kelebihan dan kelemahan metode sosiodrama sebagai berikut:[8]
1. Kelebihan
a. Siswa terlatih untuk dapat mendramatisasikan sesuatu dan juga melatih
keberanian mereka;
b. Kelas akan menjadi hidup karena menarik perhatian para siswa;
c. Siswa dapat menghayati sesuatu peristiwa sehingga mudah mengambil suatu
kesimpulan berdasarkan penghayatannya sendiri;
d. Siswa dilatih dalam menyusun buah pikiran secara teratur.
2. Kelemahan
a. Banyak menyita waktu atau jam pelajaran;
b. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang;
c. Kadang-kadang siswa berkeberatan untuk melakukan peranan yang diberikan
karena alasan psikologis, seperti rasa malu, peran yang diberikan kurang cocok
dengan minatnya, dan sebagainya;
d. Bila dramatisasi gagal, siswa tidak dapat mengambil suatu kesimpulan.
Sedangkan Roestiyah N.K dalam bukunya “Didaktik
Metodik”, hanya menjelaskan tentang kelebihan metode pembelajaran
sosiodrama ini. Di anatarnya adalah sebagai berikut:[9]
1. Memberi kesempatan pada siswa di dalam mengahadapi masalah sosial,
menempatkan diri pada tempat orang lain.
2. Meluaskan pandangan siswa.
3. Memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain, beserta masalahnya
menempatkan diri sendiri di tempat orang lain.
Adapun cara untuk mengatasi kelemahan metode
sosiodrama ini, ialah sebagai berikut:
1. Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan metode ini, bahwa
dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan
sosial yang aktual ada di masyarakat kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang
akan berperan masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan
perannya dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu.
- Guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia
mampu menjelaskan dengan baik dan menarik sehingga siswa terangsang untuk
berusaha memecahkan masalah itu.
- Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakan
sambil mengatur adegan yang pertama.
- Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus
disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu harus diusahakan
agar para pemain berbicara dan melakukan gerakan jangan sampai banyak
variasi yang kurang berguna.[10]
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kelebihan dari metode ini tidak berbeda dengan manfaatnya yang sudah dijelaskan
pada sub bab sebelumnya. Dan dari sini dapat kita ketahui bahwa di samping ada kelebihan
dari metode ini, ada pula kelemahannya. Namun, kelemahannya dapat diminimalisir
dengan cara-cara tersebut di atas, dan dalam pelaksanaannya haruslah sesuai
dengan materi, lingkungan, serta kondisi peserta didik itu sendiri.
D. Penetapan Materi Metode Pembelajaran Sosiodrama
Metode sosiodrama ini
sangat cocok digunakan untuk materi pembelajaran Bahasa Indonesia dan juga
sejarah.
Dalam konteks
pembelajaran pendidikan agama Islam, metode sosiodrama bisa digunakan dalam
pengajaran akhlakul karimah dan sejarah Islam. Sebagai contoh, dalam
mengajarkan tema birrul walidain (berbuat baik kepada orangtua) seorang
guru agama bisa membuat metode sosiodrama sebagai metode untuk menyampaikan
materi tersebut.
Pertama kali, guru
agama menentukan tema besar tentang birrul walidain. Selanjutnya guru
memberikan contoh kasus adanya pertentangan pendapat antara anak dengan
orangtuanya, bahkan tidak jarang terjadi kontak fisik yang tidak diinginkan.
Setelah itu, guru meminta sekelompok siswa membuat skenario untuk ditampilkan
pada pertemuan selanjutnya.
Melalui tampilan yang
dilakukan sekelompok siswa, kelompok lain diharapkan memberikan komentar dan
tanggapan terhadap tampilan temannya serta memberikan makna terhadap tema yang
ditampilkan.[11]
E. Aplikasi Metode Pembelajaran Sosiodrama
Berikut ini adalah contoh aplikasi
metode pembelajaran sosiodrama pada materi Akhlaq:
Mata Pelajaran :
Pendidikan Agama Islam
Satuan
Pendidikan : ..................
Kelas/Semester :
..................
Materi :
1
Pengertian perilaku birrul walidain.
2
Praktek contoh perilaku birrul walidain.
3
Praktek perilaku birrul walidain dalam
kehiduan sehari-hari.
Standar
Kompetensi : Membiasakan perilaku birrul walidain.
Kompetensi
Dasar :
1.1. Menjelaskan pengertian Pengertian
perilaku birrul walidain.
1.2. Memberikan contoh perilaku
birrul walidain.
1.3.Membiasakan perilaku birrul walidain dalam kehidupan sehari –hari.
Indikator :
1.1.Siswa mampu menjelaskan pengertian Pengertian perilaku birrul walidain.
1.2.Siswa mampu memberikan
contoh perilaku birrul walidain.
1.3.Siswa mampu membiasakan
perilaku birrul walidain dalam
kehidupan sehari –hari.
Kegiatan
pembelajaran
No
|
Kegiatan guru
|
Kegiatan siswa
|
Waktu
|
Pendahuluan
|
20 menit
|
||
1.
|
Menetapkan topik atau masalah
serta tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran, yaitu Birrul Walidain.
|
Memperhatikan
penjelasan dari guru tentang topik yang akan dibahas, yaitu topik Birrul
Walidain. Sehingga
siswa tahu bahwa tujuan dalam pembelajaran yang ingin dicapai adalah mereka
dapat mendeskripsikan serta mempraktekkan perilaku yang baik terhadap orang
tua.
|
5 menit
|
2.
|
Mengajak
siswa mengingat kembali materi sebelumnya sebagai materi prasyarat materi pelajaran yang akan dibahas hari ini.
|
Memberi
respon guru dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mengenai materi-materi
sebelumnya.
|
10 menit
|
3.
|
Menyampaikan
pada siswa bahwa untuk kegiatan pembelajaran hari ini siswa akan berpura-pura
sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu kegiatan yang berkaitan
dengan Birrul Walidain.
|
Memperhatikan
penjelasan dari guru. Diharapkan siswa akan bertanya mengenai kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan.
|
5 menit
|
Kegiatan inti
|
|||
1.
|
Mengamati
|
10 menit
|
|
Memberikan
gambaran masalah dalam situasi yang akan diperankan, misalnya adanya pertentangan pendapat antara anak dengan orangtuanya, bahkan tidak
jarang terjadi kontak fisik yang tidak diinginkan, kemudian datang seorang
ustad yang memberi nasehat kepada anak tersebut. Maka siswa diberikan gambaran apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam transaksi tersebut.
|
Memperhatikan
penjelasan dari guru agar tidak mengalami kesulitan ketika melaksanakan
kegiatan bermain peran.
|
||
2.
|
Menanya
|
10 menit
|
|
Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan sosiodrama.
|
Bertanya
mengenai semua yang berkaitan dengan kegiatan bermain peran yang akan
dilakukan.
|
||
3.
|
Mengeksplorasi
|
15 menit
|
|
Guru
beserta murid mendiskusikan dalam pembuatan skenario drama yang akan
dimainkan dalam pembelajaran tersebut.
Menetapkan pemain yang akan terlibat dalam Sosiodrama,
peranan yang harus diperankan oleh pemeran dan waktu yang disediakan untuk
melakukan kegiatan sosiodrama, dan menetapkan kelompok penonton.
|
Guru
beserta murid mendiskusikan dalam pembuatan skenario drama yang akan
dimaninkan dalam pembelajaran tersebut.
Menentukan kelompok pemain yang akan terlibat berdasarkan kesepakatan semua siswa dan
persetujuan guru.
Menentukan kelompok penonton berdasarkan kesepakatan semua siswa dan persetujuan guru.
Menentukan
peranan yang dimainkan oleh setiap pemain berdasarkan kesepakatan semua siswa
dan persetujuan guru.
Memperhatikan
penjelasan dari guru mengenai waktu yang diberikan kepada pemain untuk
memainkan perannya.
|
||
4.
|
Mengasosiasi
|
30 menit
|
|
Guru
memperhatikan kelompok pemeran yang sedang melakukan tugasnya.
Apabila ketika sosiodrama sedang
berlangsung ada pemeran yang kesulitan, guru dapat memberikan bantuan.
|
kelompok penonton memperhatikan
kelompok pemeran yang sedang melakukan tugasnya.
Melaksanakan pemeranan Sosiodrama.
|
||
5.
|
Mengkomunikasikan
|
30 menit
|
|
Melakukan
diskusi tentang kegiatan Sosiodrama yang baru saja dilakukan khususnya
pada kegiatan yang mengarah pada konsep Birrul Walidain.
Memberikan tes secara individu kepada siswa untuk
mengetahui pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran
|
Siswa yang
memainkan peran dapat membagi pengalamannya pada siswa yang tidak memainkan
peran.
Siswa
menjawab pertanyaan guru mengenai konsep Birrul Walidain dengan
menceritakan kejadian-kejadian dalam Sosiodrama yang berhubungan dengan
konsep-konsep tersebut.
Mengerjakan
tes secara individu
|
||
Kegiatan
Penutup
|
20 menit
|
||
1.
|
Membimbing siswa membuat
rangkuman tentang materi
pembelajaran hari ini
|
Membuat rangkuman tentang materi
pembelajaran
hari ini dengan bimbingan dari guru.
|
|
2.
|
Melakukan
refleksi kegiatan pembelajaran
|
melakukan refleksi kegiatan pembelajaran
|
|
Memberikan PR.
Menyuruh siswa untuk membuat
kelompok peran yang terdiri dari 4 orang untuk melakukan kegiatan Sosiodrama pada sub materi selanjutnya yang dilaksanakan pada pertemuan
selanjutnya.
|
Mencatat PR yang diberikan oleh
guru.
Mendengarkan
informasi tugas kelompok yang diberikan oleh guru
|
||
[1] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidkan (Jakarta: Kencana
Prenada Media Grup, 2006 ), h. 158
[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam
Mulia, 2002), h. 184
[5] Syaiful Bahri dan Zain,
Konsep Strategi Belajar Mengajar ( Jakarta : Rineka Cipta, 1995 ), h.
100
[6] Abu Ahmadi, Strategi
Belajar Mengajar ( Bandung : Pustaka Setia, 2005 ), h. 81.
[7] Ahmad Munjin Nasih dan
Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2009), h. 82-83
[8] M. Basyiruddin Usman, Metodologi
Pembelajaran Agama Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 51-52
[10] Bayu Gilang
Purnomo. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran. 2011. http://purnama-bgp.blogspot.com/2011/11/metode-sosiodrama-dan-bermain-peran_01.html. Diakses pada
tanggal 08 April 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar