Selasa, 31 Mei 2016

BELAJAR ALA JIGSAW


A.    Deskripsi.
Sejarah adanya model pembelajaran jigsaw yaitu berawal dari Jigsaw yakni salah satu teknik cooperative learning yang pertama kali diterapkan oleh Elliot Aronson tahun 1971 dan dipublikasikan tahun 1978. Pada awalnya penelitiannya kelas jigsaw ini dipakai untuk tujuan agar mengurangi rasa kompetisi pembelajar dan masalah ras yang terdapat disebuah kelas  yang berada di Austin, Texas. Kota texas ini termasuk mengalami masalah rasis yang sangat parah, dan itu pun memunculkan  intervensi dari sekolah – sekolah untuk menghilangkan masalah tersebut.
Di dalam suatu kelas banyak pembelajaran  Amerika keturunan Afrika, keturunan Hispanik (latin), dan pembelajaran kulit putih Amerika untuk  yang pertama kalinya berada dalam sebuah kelas bersama-­sama. Situasi semakin memanas dan mangancam lingkungan  belajar ;mereka. Dan pada tahun 1971 Aronson dan beberapa lulusan pembelajaran lainnya menciptakan  jigsaw dan mencoba untuk menerapkannya didalam kelas. Dan usaha keras ini berhasil dengan sukses, pembelajar  yang pada awalnya kurang berkomunikasi mulai berkomunikasi dan mulai bekerjasama
Eksperimen ini membentuk kelompok pembelajaran (kelompok jigsaw) dimana tiap pembelajaran tergantung kepada anggota kelompoknya untuk mendapatkan informasi  yang diperlukan untuk lulus dalam ujian. Tanpa memandang ras, mereka digabungkan menjadi sebuah grup dan wajib berkerjasama diantara anggotanya agar mencapai sukses akademik. Ketika dibandingkan dengan kelas tradisional dimana pembelajar-­pembelajar bersaing secara individu, pembelajar-­pembelajar di dalam kelas.[1]
Akan tetapi tidak hanya sejarah pembelajaran jigsaw yang mendasari penerapan pembelajaran jigsaw, namun makna dari pembelajaran jigsaw sendiri juga perlu. Jigsaw itu sendiri dalam bahasa Inggris yakni gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya istilah puzzle atau sebuah teka teki menyususn potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini mengambil pola cara kerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu sebuah model belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.[2]
Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian.[3] Tujuan model Jigsaw ini adalah untuk mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif dan penguasaan pengetahuan secara mendalam  yang tidak mungkin diperoleh siswa  apabila siswa mempelajari materi secara individual.[4]
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen – komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa, sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga orang.
Siswa siswi ini bekerja sama untuk menyeleseikan tugas kooperatifnya dalam :
1.      Belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya.
2.      Merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.
Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing – masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhdap seluruh materi yang ditugskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
Dalam model kooperatif jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntansan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain.
Banyak riset telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar jigsaw. Riset tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran model kooperatif model jigsaw ini memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik dan lebih positif dalam pembelajaran, disamping saling menghargai perbedaaan dan pendapat orang lain.
Jhonson melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model jigsaw yang hasilnya menunjukkan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut adalah : (Manfaat)
1.      Meningkatkan hasil belajar.
2.      Meningkatkan daya ingat.
3.      Dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi.
4.      Mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (keasadaran individu)
5.      Meningkatkan hubungan antar manusia yang heterogen..[5]
Pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Tetapi permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, setiap utusan dalam kelompok yang berbeda membahas materi yang sama, kita sebut sebagai tim ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi, selanjutnya hasil pembahasan itu dibawa ke kelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.
Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Melakukan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut.
2.      Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut.
3.      Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapat dari diskusi tim ahli.
4.      Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.[6]
Akan tetapi terdapat  juga kekurangan dan kelebihan dari pembelajaran jigsaw ini di dalamnya, yakni :
            Kekurangan :
1.      Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi. 
2.      Jika anggota kelompoknya kurang akan menimbulkan masalah. 
3.      Membutuhkan waktu yang lebih lama, apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan.
Kelebihan :
1.      Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.
2.      Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengerjakan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain, sehingga pengetahuannya jadi bertambah.
3.      Menerima keragaman dan menjalin hubungan sosial yang baik dalam hubungan dengan belajar.
4.      Meningkatkan berkerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.[7]
B.     Langkah-Langkah.
Langkah-langkah melaksanakan teknik Jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan segmen yang ada.
2.      Sebelum bahan pelajaran dibagikan guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas.
3.      Guru membagi materi yang berbeda pada setiap kelompok untuk dipelajari, didiskusikan dan dipahami.
4.      Setelah selesai, setiap kelompok mengutus delegasi kekelompok lain untuk menjelaskan materi yang telah dipelajari dan didiskusikan.
5.      Guru mengembalikan suasana kelas seperti semula kemudian menanyakan seandainya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
6.      Guru memberikan pertanyaan pada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.
7.      Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.[8]
C.    Tips.
Tips – tips penggunaan metode jigsaw learning
1.      Positive interdependence.
Setiap anggota kelompok harus memiliki ketergantungan satu sama lain yang dapat menguntungkan dan merugikan anggota kelompok lainnya.
2.      Individual accountability.
Setiap anggota kelompok harus memiliki rasa tanggung jawab atas kemajuan proses belajar seluruh anggota termasuk dirinya sendiri.
3.      Face-to-face promotive interaction.
Anggota kelompok melakukan interaksi tatap muka yang mencakup diskusi dan elaborasi dari materi pembahasan.
4.      Social skills.
Setiap anggota kelompok harus memiliki kemampuan bersosialisasi dengan anggota lainnya sehingga pemahaman materi dapat diperoleh secara kolektif.
5.      Groups processing and Reflection.
Kelompok harus melakukan evaluasi terhadap proses belajar untuk meningkatkan kinerja kelompok.[9]






[2] Rusman, Model-Model Pembelajaran, ( Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2012 ), 217
[3] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar  & Micro Teaching, ( Padang : tp, 2005 ), 135.
[5] Rusman, 219
[6] Rusman, 217-220
[8] Ismail SM, Strategfi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAIL Media Group, Cet. IV. 2009), 83.
[9] Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar