A.
Pengertian Klasifikasi Metode Pembelajaran.
Secara
harfiah arti klasifikasi adalah penggolongan atau pengelompokkan. Ada
beberapa pengertian mengenai klasifikasi, menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau
golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Dalam pengertian
secara umum bahwa klasifikasi ialah suatu kegiatan yang mengelompokkan
benda yang memiliki beberapa ciri yang sama dan memisahkan benda yang
tidak sama.[1]
Metode
Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana “Metode
pembelajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan
siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan menurut M. Sobri Sutikno
“Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang
dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam
upaya mencapai tujuan”.[2]
Jadi
dapat disimpulkan bahwa klasifikasi metode pembelajaran adalah pengelompokkan
cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa agar
proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Akan tetapi metode pembelajaran
tersebut diadakan sebaiknya sesuai dengan materi yang akan disampaikan oleh
guru kepada siswa.
B.
Klasifikasi Metode Pembelajaran.
1
Metode Pembelajaran Kontekstual (CTL)
a.
Pengertian Metode Pembelajaran Kontekstual.
Elaine
B. Johnson mengatakan pembelajaran kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa
aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat, sebab siswa
berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia
nyata atau kehidupan sehari-hari dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat.
Dengan
demikian, inti dari pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik
pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Melalui
pembelajaran kontekstual mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru
kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas
dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi
siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup dari apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran
kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan
belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman melalui
keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri.
Dengan demikian, pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, akan
tetapi yang terpenting adalah proses.[3]
Dari
konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami oleh para guru :
1)
Proses
belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
2)
Siswa
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah
dengan kehidupan nyata.
3)
Mengharapkan
peserta didik dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Ciri
khas CTL ditandai oleh tujuh komponen utama, yaitu Constructivism, Inquiry,
Questioning, Learning Community, Modelling, Reflection, Dan Authentic
Assesment.[5]
b.
Karakteristik Pembelajaran Kontekstual.
1)
Pembelajaran
merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada.
2)
Belajar
dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru.
3)
Pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal melainkan untuk dipahami dan diyakini.
4)
Mempraktikan
pengetahuan dan pengalaman tersebut.
5)
Melakukan
refleksi.[6]
Sedangkan dalam
buku pengarang Aris Shoimin menjelaskan bahwa karakteristik pembelajaran
kontekstual yaitu sebagai berikut :
1)
Kerja
sama.
2)
Saling
menunjang.
3)
Menyenangkan.
4)
Belajar
dengan bergairah.
5)
Pembelajaran
terintegrasi.
6)
Menggunakan
berbagai sumber.
7)
Siswa
aktif.
8)
Sharing
dengan teman.
9)
Siswa
kritis guru kreatif.[7]
c.
Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual.
1)
Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bemakna.
2)
Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
3)
Mengembangkan
sifat inin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-perntanyaan.
4)
Menciptakan
masyarakat belajar (kelompok belajar).
5)
Menghadirkan
model (media pembelajaran).
6)
Membiasakan
anak untuk melakakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
7)
Melakukan
penilaian secara objektif.[8]
d.
Prinsip Pembelajaran Kontekstual.
1)
Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas.[9] Implikasi
bagi guru dalam mengembangkan tahap konstruktivisme ini terutama dituntut
kemampuan untuk membimbing siswa mendapatkan makna dari setiap konsep yang
dipelajarinya. Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna apabila secara
langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang
dialami oleh para siswa itu sendiri.[10]
2)
Menemukan.
Menemukan
merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan
kontekstual.[11]Melalui
upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan
serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
Dilihat
dari segi kepuasan secara emosional, sesuatu hasil menemukan sendiri nilai kepuasan
lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian.
3)
Bertanya.
Unsur
lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk
bertanya.[12]
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dai bertanya, karena
bertanya merupakan strategi pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual.[13]Penerapan
unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru, kebiasaan siswa untuk
bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan
mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. Dalam
implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan
alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada
kaitannya dengan kehidupan nyata.
4)
Masyarakat
belajar.
Membiasakan
siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari
teman-teman belajarnya. Setiap siswa dibimbing dan diarahkan untuk
mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas
yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas, akan tetapi
sumber manusia lain diluar kelas.[14]
Penerapan komponen masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan
pembelajaran melalui kelompok belajar.[15]
5)
Pemodelan
Guru
bukan satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan segala kelebihan
dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk
memberikan pelayanan. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan
alternatif untuk mengembangkan pembelajaran.[16]Yaitu
dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap
peserta didik.[17]
6)
Refleksi.
Pada
saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang,
membandingkan, mengahayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri.
7)
Penilaian
sebenarnya.
Penilaian
memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas
proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah proses
pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau
petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa.
Guru
dengan cermat akan mengetahui kemajuan, kemunduran, dan kesulitan siswa dalam
belajar, dan dengan itu pula guru akan memiliki kemudahan untuk melakukan
upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses bimbingan belajar dalam langkah
selanjutnya.[18]
Dalam prinsip
pembelajaran kontekstual ini ada perbedaan struktur dari buku pengarang
Husniyatus Salamah Zainiyati dan Dr. Rusman, M.Pd. Jika struktur dalam buku
pengarang Husniyatus Salamah Zainiyati yaitu aspek bertanya terlebih dahulu
kemudian disusul dengan aspek menemukan. Sedangkan berbeda struktur lagi dalam
buku pengarang Dr. Rusman, M.Pd, beliau mengedepankan aspek menemukan terlebih
dahulu kemudian aspek bertanya. Akan tetapi, dalam segi istilah dari satu per
satu aspek keduanya mempunyai yang hampir sama.
e.
Kelebihan Pembelajaran Kontekstual.
1)
Dapat
menekankan aktivitas berpikir siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
2)
Dapat
menjadikan siswa belajar bukan dengan mengahafal, melainkan proses
berpengalaman dalam dunia nyata.
3)
Materi
pelajaran ditentukan oleh siswa, bukan hasil dari pemberian guru atau orang
lain.
f.
Kekurangan Pembelajaran Kontekstual.
1)
Merupakan
pembeljaaran yang kompleks dan sulit dilaksanakan dalam konteks pembelajaran.
2)
Membutuhkan
waktu yang lama.[19]
g.
Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran
Kontekstual.
1)
Model Pembelajaran Role Playing.
a)
Pengertian Model Pembelajaran Role Playing.
Model
ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk praktik menempatkan diri mereka
dalam peran-peran dan situasi-situasi yang akan meningkatkan kesadaran terhadap
nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri dan orang lain.
b)
Langkah-langkah Model Pembelajaran Role Playing.
1
Guru
menyusun skenario yang akan ditampilkan.
2
Menunjuk
beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM.
3
Memberikan
penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
4
Memanggil
para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah
dipersiapkan.
5
Masing-masing
siswa duduk dikelompoknya, sambil memerhatikan skenario yang sedang
diperagakan.
6
Setelah
dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk
membahas.
7
Masing-masing
kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
8
Guru
memberikan kesimpulan secara umum.
9
Evaluasi.
10
Penutup.
c)
Kelebihan Model Pembelajaran Role Playing.
1
Siswa
bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2
Permainan
merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang
berbeda.
3
Berkesan
dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa.
d)
Kekurangan Model Pembelajaran Role Playing.
1
Metode
bermain peran memerlukan waktu yang relatif panjang.
2
Memerlukan
kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.
3
Kebanyakan
siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan
tertentu.[20]
2)
Model Pembelajaran Simulasi.
a)
Pengertian Model Pembelajaran Simulasi
Model
pembeljaran simulasi adalah bentuk model pembelajaran praktik yang sidatnya
mengembangkan keterampilan peserta didik. Model pembelajaran ini memindahkan
situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan
untuk melakukan praktik di dalam situasi sesungguhnya. Model pembeljaaran
merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang
nyata.
b)
Tujuan Model Pembelajaran Simulasi
1
Melatih
keterampilan tertentu, baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan
sehari-hari.
2
Memperoleh
pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.
3
Melatih
memecahkan masalah.
c)
Prinsip dalam Proses Model Pembelajaran Simulasi
1
Penjelasan.
2
Mengawasi.
3
Melatih.
4
Diskusi.
d)
Langkah-langkah Model Pembelajaran Simulasi
1
Orientasi.
a.
Menyediakan
berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses
simulasi.
b.
Menjelaskan
prinsip simulasi dan permainan.
c.
Memberikan
gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
2
Latihan
Bagi Peserta.
a.
Membuat
skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan
yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.
b.
Menugaskan
para pemeran dalam simulasi.
c.
Mencoba
secara singkat suatu episode.
3
Proses
Simulasi.
a.
Melaksanakan
aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.
b.
Memperoleh
umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap performa si pemeran.
c.
Menjernihkan
hal-hal yang miskonsepsional.
d.
Melanjutkan
permainan.
4
Pemantapan.
a.
Memberikan
ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi.
b.
Memberikan
ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para peserta.
c.
Menganalisis
proses.
d.
Membandingkan
aktivitas simulasi dengan dunia nyata.
e.
Menghubungkan
proses simulasi dengan isi pelajaran.
f.
Menilai
dan merancang kembali simulasi.
e)
Kelebihan Model Pembelajaran Simulasi
1
Simulasi
dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang
sebenarnya kelak.
2
Simulasi
dapat mengembangkan kreativitas siswa.
3
Simulasi
dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
f)
Kekurangan Model Pembelajaran Simulasi
1
Pengelaman
yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan
di lapangan.
2
Pengelolaan
yang kurang baik, sering simulasi dijadikan alat hiburan sehingga tujuan
pembelajaran menjadi terabaikan.
3
Faktor
psikologis seperti malu dan takut sering mempengaruhi siswa.[21]
3)
Model Pembelajaran Karyawisata
Karyawisata
dalam arti metode pembelajaran mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan
karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar
kelas dalam rangka belajar. Contoh: mengajak peserta didik ke gedung pengadilan
untuk mengetahui sistem peradilan dan proses pengadilan, selama satu jam
pelajaran. Jadi, karyawisata tersebut tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah
dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan
tempat yang auh disebut study tour.[22]
Langkah-langkah
pokok dalam pelaksanaan metode karyawisata, antara lain:
a)
Perencanaan
Karyawisata
1
Merumuskan
tujuan karyawisata
2
Menetapkan
objek karyawisata sesuai dengan tujuan ang hendak dicapai
3
Menetapkan
lamanya karyawisata
4
Menyusun
rencana belajar bagi peserta didik selama karyawisata
5
Merencanakan
perlengkapan belajar yang harus disediakan
b)
Pelaksanaan
karyawisata
Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata
dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang
telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.
c)
Tindak
lanjut
Pada akhir
karyawisata peserta didik diminta laporannya baik lisan maupun tertulis,
mengenai inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.
Berikut kelebihan dari model pembelajaran karyawisata :
a)
Memperkaya
pengalaman siswa, terutama mengenai objek-objek disekitarnya atau alam sekitar.
b)
Pengubahan
situasi mengajar-belajar yang sehari-hari dibatasi empat buah dinding kepada
suatu tempat atau situasi yang terdapat dialam terbuka dapat mengembangkan
kegairahan belajar dan menyegarkan.
c)
Siswa
dapat mengganti pengalaman-pengalaman dengan mencoba turut serta dalam kegiatan[23]
d)
Siswa
dapat mengamati objek ditempat dimana objek itu berada, dalam situasi yang
asli.
e)
Siswa
dapat mengetahui bagaimana cara mengobservasi suatu objek dengan baik, memupuk
kebiasaan mengamati dengan teliti.
f)
Memiliki
prinsip pengajaran modern yang memenfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.[24]
2
Metode Pembelajaran Langsung.
a.
Pengertian Metode Pembelajaran Langsung.
Metode pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar
yang dirancang khusus untuk penunjang proses belajar siswa yang berkaitan
dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur
dengan baik.
Pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan
deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural
adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang
sangat hati-hati. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, yakni dengan memperhatikan, mendengarkan,
dan resitasi yang terencana.[25]
Jadi penggunaan pembelajaran langsung yaitu dengan didemonstrasikan
atau diajarkan langsung oleh guru, dan kemudian menyediakan waktu bagi siswa
untuk mengaplikasikan materi yang sudah didemonstrasikan atau diajarkan oleh
guru.
Istilah pembelajaran langsung juga disebut dengan pembelajaran
aktif.
Ciri-ciri metode pembelajaran langsung yaitu sebagai berikut :
1)
Adanya
tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian
belajar.
2)
Sintaks
atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3)
Sistem
pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlakukan agar kegiatan
pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.
Selain itu
pembelajaran langsung juga mempunyai beberapa persyaratan, yaitu :
1)
Ada
alat yang akan di demonstrasikan.
2)
Harus
mengikuti tingkah laku mengajar.[26]
b.
Langkah-langkah Metode Pembelajaran Langsung
1)
Menyampaikan
tujuan
Menyampaikan
tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran
dengan cara menuliskannya yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta lokasi
waktu yang disediakan untuk setiap tahap
2)
Menyiapkan
siswa
Kegiatan
ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada
pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah
dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
3)
Presentasi
dan demonstrasi
Melakukan
presentasi atau demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil
ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah
demonstrasi yang efektif.
4)
Kejelasan
presentasi.
5)
Melakukan
demonstrasi
Agar
dapat mendemonstrasikan suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil, guru
perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan
didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai
komponen-komponennya.
6)
Mencapai
pemahaman dan penguasaan.
Untuk
menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan
sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap
tahap demonstrasi.
7)
Berlatih.
Agar
dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif,
dan memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang
didemonstrasikan.
8)
Memberikan
latihan terbimbing.
Keterlibatan
siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar
berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan
konsep/keterampilan pada situasi yang baru.
9)
Mengecek
pemahaman dan memberikan umpan balik.
Guru
memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswadan guru
memberikan respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini merupakan aspek penting
dalam pembelajaran langsung, karena tanpa mengetahui hasilnya, latihan tidak
benyak manfaatnya bagi siswa.
10)
Memberikan
kesempatan latihan mandiri.
Pada
tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang
baru saja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini ddilakukan oleh siswa secara
pribadi yang dilakukan dirumah atau di luar jam pelajaran.[27]
Dari
langkah-langkah diatas ada perbedaan struktur antara buku dari pengarang
Husniyatus Salamah Zainiyati dengan buku dari pengarang Aris Shoimin. Jika pada
buku Husniyatus Salamah Zainiyati mempunyai 10 langkah dalam penerapan metode
pembelajaran langsung. Sedangkan dalam buku pengarang dari Aris Shoimin hanya
mempunyai 5 langkah saja, yaitu sebagai berikut :
1)
Menyampaikan
tujuan.
Dalam
fase ini meliputi :
a)
Kegiatan
pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa.
b)
Menyampaikan
tujuan pembelajaran.
c)
Memberi
penjelasan atau arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan.
d)
Menginformasikan
materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama
pembelajaran.
e)
Menginformasikan
kerangka pelajaran.
f)
Memotivasi
siswa.
2)
Presentasi
atau demonstrasi.
a)
Penyajian
materi dalam langkah-langkah.
b)
Pemberian
contoh konsep.
c)
Pemodelan
atau peragaan keterampilan.
d)
Menjelaskan
ulang hal yang dianggap sulit atau kurang dimengerti oleh siswa.
3)
Latihan
terbimbing.
Guru
merencanakan dan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan latihan-latihan
awal. Guru memberikan penguatan terhadap respons siswa yang benar dan
mengoreksi yang salah.
4)
Mengecek
Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik.
Siswa
diberi kesempatan untuk berlatih konsep dan keterampilan serta menerapkan
pengetahuan atau keterampilan tersebut ke situasi kehidupan nyata. Latihan
terbimbing ini baik juga digunakan guru untuk mengakses kemampuan siswa dalam
melakukan tugas dengan baik atau tidak, serta memberikan umpan balik. Guru
memonitor dan memberikan bimbingan jika perlu.
5)
Latihan
mandiri.
Siswa
melakukan kegiatan latihan secara mandiri. Fase ini dapat dilalui siswa dengan
baik jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85%-90% dalam fase latihan
terbimbung. Guru memberikan umpan balik bagi keberhasilan siswa.[28]
c.
Kelebihan Metode Pembelajaran Langsung
1)
Guru
lebih dapat menegndalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh
siswa yang sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai
oleh siswa.
2)
Menekankan
kegiatan mendengarkan dan kegiatan mengamati sehingga membantu siswa yang cocok
belajar dengan cara ini.
d.
Kekurangan Metode Pembelajaran Langsung
Sangat bergaantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang
kurang baik cenderung menjadikan pembelajaran yang kurang baik pula.[29]
e.
Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran
Kontekstual.
1)
Model Pembelajaran Demonstrasi.
a.
Pengertian Model Pembelajaran Demonstrasi.
Model
pembelajaran demonstrasi adalah model mengajar dengan cara memperagakan barang,
kejadian, atauran, dan urutan melakukan sesuatu kegiatan, baik secara langsung
maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan
atau materi yang sedang disajikan.
b.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.
Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.
Guru
menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.
3.
Menyiapkan
bahan atau alat yang diperlukan.
4.
Menunjuk
salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah
disiapkan.
5.
Seluruh
siswa memerhatikan demonstrasi dan menganalisis.
6.
Tiap
siswa mengemukakan hasil analisis dan mendemonstrasikan pengelaman.
7.
Guru
dan siswa membuat kesimpulan.
8.
Penutup.
c.
Kelebihan Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.
Membantu
anak didik memehami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2.
Memudahkan
berbagai jenis penjelasan.
3.
Kesalahan-kesalahan
yang terjadi hasil dari ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh
konkret dengan menghadirkan objek sebenarnya.
d.
Kekurangan Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.
Anak
didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang diperuntukkan kepadanya.
2.
Tidak
semua benda dapat didemonstrasikan.
3.
Sukar
dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang
didemonstrasikan.[30]
3
Metode Pembelajaran Quantum.
a.
Pengertian Metode Pembelajaran Quantum.
Metode
pembelajaran quantum adalah metode belajar yang menciptakan lingkungan belajar
yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan
belajarnya melalui interaksi yang ada di dalam kelas.
Metode
pembelajaran quantum menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan
menyenangkan, dengan cara melibatkan semua unsur yang ada pada siswa dan
lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Metode
pembelajaran quantum akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat untuk terus
belajar dengan semangat tinggi. Guru harus berusaha membuat suasana kelas
menyenangkan dengan menunjukkan ekspresi wajah yang ceria, dan memberikan
respons positif terhadap setiap hal positif yang dilakukan siswa.
b.
Prinsip Metode Pembelajaran Quantum.
1)
Segalanya
berbicara
Segalanya
dari lingkungan kelas hingga bahan pelajara. Semuanya menyampaikan tentang
materi yang akan diberikan.
2)
Segalanya
bertujuan.
Semua
kegiatan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan tujuan.
3)
Pengelaman
sebelum pemberian nama.
Siswa
dianjurkan untuk mencari sebanyak mungkin informasi seputar materi yang
diberikan.
4)
Akui
setiap usaha.
Guru
harus menghargai semua usaha siswa walaupun usaha tersebut kecil.
5)
Jika
layak dipelajari, layak pula dirayakan.
Guru
memberikan pujian pada siswa yang terlibat aktif.
c.
Teknik-Teknik Metode Pembelajaran Quantum
1)
Teknik AMBAK.
a)
A : Apa yang dipelajari.
b)
M Manfaat.
c)
BAK : Bagiku.
2)
Teknik TANDUR.
a)
T :
Tumbuhkan, tumbuhkan minat siswa dengan memuaskan.
b)
A :
Alami, ciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.
c)
N :
Namai, sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi.
d)
D :
Demonstrasikan, sediakan kesempatan bagi siswa untuk terampil.
e)
U
:Ulangi, tunjukkan kepada siswa bagaimana cara mengulang materi secara efektif.
f)
R :
Rayakan, guru memberikan apresiasi kepada siswa.
3)
Teknik ARIAS
a)
Assurance
(Percaya Diri)
b)
Relevance.
c)
Interest.
d)
Assesment.
e)
Satisfaction.[31]
d.
Kelebihan Metode Pembelajaran Quantum
1)
Prosess
pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
2)
Siswa
dirangang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan,
dan dapat mencoba melakukan sendiri.
3)
Pelajaran
dari guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.
e.
Kekurangan Metode Pembelajaran Quantum
1)
Model
ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang.
2)
Media
tidak selalu tersedia dengan baik.
3)
Banyak
memakan waktu dalam hal kesiapan.[32]
f.
Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran Quantum.
1)
Group Investigation (GI).
Group
Investigation adalah suatu model pembelajaran yang lebih menekankan pada
pilihan dan kontrol siswa daridapa menerapkan teknik-teknik pengajaran diruang
kelas. Selain itu juga memadukan prinsip belajar demokratis dimana siswa
terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, baik dari tahap awal sampai
akhir pembelajaran termasuk didalamnya siswa mempunyai kebebasan untuk memilih
materi yang akan dipelajari sesuai dengan topik yang sedang dibahas. Diantara
model-model belajar yang tercipta, Group Investigation merupakan salah satu
model pembelajaran yang bersifat demokratis karena siswa menjadi aktif belajar
dan melatih kemandirian dalam belajar.
Langkah-langkah
pelaksanaan metode Group Investigation :
a)
Guru
membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen.
b)
Guru
menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok yang harus dikerjakan.
c)
Guru
mengundang ketua-ketua kelompok untuk memanggil materi tugas secara kooperatif
dalam kelompoknya.
d)
Masing-masing
kelompok membahas materi tugas secara kooperatif dalam kelompoknya.
e)
Setelah
selesai, masing-masing kelompok yang diwakili ketua kelompok salah satu
anggotanya menyampaikan hasil pembahasan.
f)
Kelompok
lain dapat memberikan tanggapan terhadap hasil pembahasan.
g)
Guru
memberikan penjelasan singkat bila terjadi kesalahan konsep dan memberikan
kesimpulan.
h)
Evaluasi.
Kelebihan
pelaksanaan metode Group Investigation :
a)
Dalam
proses belajarnya dapat bekerja secara bebas.
b)
Memberi
semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif.
c)
Dapat
belajar untuk memecahkan dan menangani suatu masalah.
d)
Mengembangkan
antusiasme dan rasa pada fisik.
Kekurangan
pelaksanaan metode Group Investigation :
a)
Sedikitnya
materi yang disampaikan pada satu kali pertemuan.
b)
Sulitnya
memberikan penilaian secara personal.
c)
Tidak
semua topik cocok untuk diterapkan dengan metode pembelajaran tersebut.
d)
Diskusi
kelompok biasanya berjalan kurang efektif.
e)
Siswa
yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami kesulitan saat
menggunakan model ini.[33]
2)
Model Pembelajaran Talking Stick.
model
pembelajaran talking stick ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang
memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik
mempelajari materi pokoknya.
Pembelajaran
talking stick ini mendorong peserta didik untuk berani mengamukakan pendapat.
Pembelajaran ini diawali denga penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan
dipelajari.
Langkah-langkah
penggunaan pembelajaran talking stick yaitu :
a)
Guru
menjelaskan materi yang akan diberikan.
b)
Guru
menjelaskan struktur model pembelajaran yang akan digunakakn oleh guru agar
siswa faham.
c)
Guru
meminta kepada semua siswa untuk saling lempar melempar tongkat yang diberikan
oleh guru dari satu siswa ke siswa lainnya.
d)
Guru
dapat memberikan variasi dengan menyanyikan satu lagu sembari dengan melempar
tongkat secara urut dari siswa satu ke siswa lain.
e)
Bagi
siswa yang telah memegang tongkat dengan berakhirnya lagu yang dinyanyikan,
siswa akan diberikan pertanyaan dan siswa tersebut harus menjawab.
f)
Siswa
yang lain memperhatikan dan guru boleh memvariasikan dengan cara siswa yang
lain mencatat apa pertanyaan dari guru dan jawaban dari siswa.
g)
Pembelajaran
tersebut dapat diulang sesuai dengan keinginan.
h)
Guru
menyimpulkan materi.
Kelebihan
dari pembelajaran talking stick yakni :
a)
Menguji
kesiapan siswa dalam pembelajaran.
b)
Melatih
siswa memahami materi.
c)
Siswa
berani dalam mengemukakan pendapat.
Kekurangan
pembelajaran talking stick yakni :
a)
Membuat
siswa senam jantung.
b)
Siswa
tidak siap dan tidak bisa menjawab.
c)
Membuat
siswa menjadi tegang.[34]
[1]
Agus Kurniawan, Pengertian Tujuan dan Manfaat Klasifikasi, http://ahmadaguskurniawan.blogspot.co.id/.
Diakses pada tanggal 25 Oktober 2015.
[2] Era Zul, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode,
Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran, https://plus.google.com/116281639767505119702. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2015.
[3] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran (Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada, 2012), h. 190.
[4]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.143-144.
[5] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 191.
[6]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif (Suarabaya
: IAIN Press, 2012),.h.144-145.
[7]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013
(Rembang:Ar-Ruzz Media,2014), h. 42.
[8] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 192.
[9]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.152.
[10] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid.
[11]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.154.
[12] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid.
[13]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.153.
[14] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 195
[15]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.155.
[16] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 196.
[17]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.
[18] Dr.
Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran, Ibid,. h. 187-198.
[19]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid,. h. 44.
[20]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 161-163.
[21]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 170-174.
[22]
Mulyono, Strategi Pembelajaran, h. 112.
[23] Tim
Didaktik IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum Pbm, (Jakarta:Raja
Grafinda Persada, 1993). h. 46.
[24]
Syaiful Bahri dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2010), h. 94 .
[25]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif, Ibid.,
h. 83-90.
[26]
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif
(Surabaya:Kencana Prenada Media Group,2009), h. 41-42
[27]
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.91-96.
[28]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 64-66.
[29]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 66-67.
[30]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 62-63.
[31]
Ahmad Munjin Nasih, DKK, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (Surabaya : Refika Aditama, 2009), h. 117-125.
[32]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Ibid., h. 145-146.
[33]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013,
Ibid., h. 81.
[34]
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013,
Ibid., h. 197-199.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar