Selasa, 31 Mei 2016

Klasifikasi Metode Pembelajaran

A.    Pengertian Klasifikasi Metode Pembelajaran.
Secara harfiah arti  klasifikasi adalah  penggolongan atau  pengelompokkan. Ada beberapa pengertian mengenai klasifikasi,  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia klasifikasi adalah penyusunan  bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar  yang ditetapkan. Dalam pengertian secara umum bahwa klasifikasi ialah suatu kegiatan  yang mengelompokkan benda yang memiliki beberapa ciri yang sama  dan memisahkan benda yang tidak sama.[1]
Metode Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana “Metode pembelajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan menurut M. Sobri Sutikno “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya mencapai tujuan”.[2]
Jadi dapat disimpulkan bahwa klasifikasi metode pembelajaran adalah pengelompokkan cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Akan tetapi metode pembelajaran tersebut diadakan sebaiknya sesuai dengan materi yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
B.     Klasifikasi Metode Pembelajaran.
1        Metode Pembelajaran Kontekstual (CTL)
a.      Pengertian Metode Pembelajaran Kontekstual.
Elaine B. Johnson mengatakan pembelajaran kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat, sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, inti dari pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Melalui pembelajaran kontekstual mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup dari apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses.[3]
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami oleh para guru :
1)      Proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
2)      Siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata.
3)      Mengharapkan peserta didik dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Ciri khas CTL ditandai oleh tujuh komponen utama, yaitu Constructivism, Inquiry, Questioning, Learning Community, Modelling, Reflection, Dan Authentic Assesment.[5]
b.      Karakteristik Pembelajaran Kontekstual.
1)      Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada.
2)      Belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru.
3)      Pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal melainkan untuk dipahami dan diyakini.
4)      Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut.
5)      Melakukan refleksi.[6]
Sedangkan dalam buku pengarang Aris Shoimin menjelaskan bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual yaitu sebagai berikut :
1)      Kerja sama.
2)      Saling menunjang.
3)      Menyenangkan.
4)      Belajar dengan bergairah.
5)      Pembelajaran terintegrasi.
6)      Menggunakan berbagai sumber.
7)      Siswa aktif.
8)      Sharing dengan teman.
9)      Siswa kritis guru kreatif.[7]
c.       Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual.
1)      Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bemakna.
2)      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
3)      Mengembangkan sifat inin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-perntanyaan.
4)      Menciptakan masyarakat belajar (kelompok belajar).
5)      Menghadirkan model (media pembelajaran).
6)      Membiasakan anak untuk melakakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7)      Melakukan penilaian secara objektif.[8]
d.      Prinsip Pembelajaran Kontekstual.
1)      Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.[9] Implikasi bagi guru dalam mengembangkan tahap konstruktivisme ini terutama dituntut kemampuan untuk membimbing siswa mendapatkan makna dari setiap konsep yang dipelajarinya. Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh para siswa itu sendiri.[10]
2)      Menemukan.
Menemukan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual.[11]Melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
Dilihat dari segi kepuasan secara emosional, sesuatu hasil menemukan sendiri nilai kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian.
3)      Bertanya.
Unsur lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya.[12] Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dai bertanya, karena bertanya merupakan strategi pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual.[13]Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru, kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. Dalam implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
4)      Masyarakat belajar.
Membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Setiap siswa dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas, akan tetapi sumber manusia lain diluar kelas.[14] Penerapan komponen masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar.[15]
5)      Pemodelan
Guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran.[16]Yaitu dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap peserta didik.[17]
6)      Refleksi.
Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang, membandingkan, mengahayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri.
7)      Penilaian sebenarnya.
Penilaian memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa.
Guru dengan cermat akan mengetahui kemajuan, kemunduran, dan kesulitan siswa dalam belajar, dan dengan itu pula guru akan memiliki kemudahan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses bimbingan belajar dalam langkah selanjutnya.[18]
Dalam prinsip pembelajaran kontekstual ini ada perbedaan struktur dari buku pengarang Husniyatus Salamah Zainiyati dan Dr. Rusman, M.Pd. Jika struktur dalam buku pengarang Husniyatus Salamah Zainiyati yaitu aspek bertanya terlebih dahulu kemudian disusul dengan aspek menemukan. Sedangkan berbeda struktur lagi dalam buku pengarang Dr. Rusman, M.Pd, beliau mengedepankan aspek menemukan terlebih dahulu kemudian aspek bertanya. Akan tetapi, dalam segi istilah dari satu per satu aspek keduanya mempunyai yang hampir sama.
e.       Kelebihan Pembelajaran Kontekstual.
1)      Dapat menekankan aktivitas berpikir siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
2)      Dapat menjadikan siswa belajar bukan dengan mengahafal, melainkan proses berpengalaman dalam dunia nyata.
3)      Materi pelajaran ditentukan oleh siswa, bukan hasil dari pemberian guru atau orang lain.
f.       Kekurangan Pembelajaran Kontekstual.
1)      Merupakan pembeljaaran yang kompleks dan sulit dilaksanakan dalam konteks pembelajaran.
2)      Membutuhkan waktu yang lama.[19]
g.      Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran Kontekstual.
1)      Model Pembelajaran Role Playing.
a)      Pengertian Model Pembelajaran Role Playing.
Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk praktik menempatkan diri mereka dalam peran-peran dan situasi-situasi yang akan meningkatkan kesadaran terhadap nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri dan orang lain.
b)     Langkah-langkah Model Pembelajaran Role Playing.
1        Guru menyusun skenario yang akan ditampilkan.
2        Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM.
3        Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
4        Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
5        Masing-masing siswa duduk dikelompoknya, sambil memerhatikan skenario yang sedang diperagakan.
6        Setelah dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas.
7        Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
8        Guru memberikan kesimpulan secara umum.
9        Evaluasi.
10    Penutup.
c)      Kelebihan Model Pembelajaran Role Playing.
1        Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2        Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3        Berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa.
d)     Kekurangan Model Pembelajaran Role Playing.
1        Metode bermain peran memerlukan waktu yang relatif panjang.
2        Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.
3        Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu.[20]
2)      Model Pembelajaran Simulasi.
a)      Pengertian Model Pembelajaran Simulasi
Model pembeljaran simulasi adalah bentuk model pembelajaran praktik yang sidatnya mengembangkan keterampilan peserta didik. Model pembelajaran ini memindahkan situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik di dalam situasi sesungguhnya. Model pembeljaaran merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata.
b)     Tujuan Model Pembelajaran Simulasi
1        Melatih keterampilan tertentu, baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari.
2        Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.
3        Melatih memecahkan masalah.
c)      Prinsip dalam Proses Model Pembelajaran Simulasi
1        Penjelasan.
2        Mengawasi.
3        Melatih.
4        Diskusi.
d)     Langkah-langkah Model Pembelajaran Simulasi
1        Orientasi.
a.       Menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi.
b.      Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan.
c.       Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
2        Latihan Bagi Peserta.
a.       Membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.
b.      Menugaskan para pemeran dalam simulasi.
c.       Mencoba secara singkat suatu episode.
3        Proses Simulasi.
a.       Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.
b.      Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap performa si pemeran.
c.       Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional.
d.      Melanjutkan permainan.
4        Pemantapan.
a.       Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi.
b.      Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para peserta.
c.       Menganalisis proses.
d.      Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata.
e.       Menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran.
f.       Menilai dan merancang kembali simulasi.
e)      Kelebihan Model Pembelajaran Simulasi
1        Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak.
2        Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa.
3        Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
f)       Kekurangan Model Pembelajaran Simulasi
1        Pengelaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2        Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan alat hiburan sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
3        Faktor psikologis seperti malu dan takut sering mempengaruhi siswa.[21]
3)      Model Pembelajaran Karyawisata
Karyawisata dalam arti metode pembelajaran mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Contoh: mengajak peserta didik ke gedung pengadilan untuk mengetahui sistem peradilan dan proses pengadilan, selama satu jam pelajaran. Jadi, karyawisata tersebut tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang auh disebut study tour.[22]
Langkah-langkah pokok dalam pelaksanaan metode karyawisata, antara lain:
a)      Perencanaan Karyawisata
1        Merumuskan tujuan karyawisata
2        Menetapkan objek karyawisata sesuai dengan tujuan ang hendak dicapai
3        Menetapkan lamanya karyawisata
4        Menyusun rencana belajar bagi peserta didik selama karyawisata
5        Merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan
b)      Pelaksanaan karyawisata
Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.
c)      Tindak lanjut
Pada akhir karyawisata peserta didik diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.
Berikut kelebihan dari model pembelajaran karyawisata :
a)      Memperkaya pengalaman siswa, terutama mengenai objek-objek disekitarnya atau alam sekitar.
b)      Pengubahan situasi mengajar-belajar yang sehari-hari dibatasi empat buah dinding kepada suatu tempat atau situasi yang terdapat dialam terbuka dapat mengembangkan kegairahan belajar dan menyegarkan.
c)      Siswa dapat mengganti pengalaman-pengalaman dengan mencoba turut serta dalam kegiatan[23]
d)     Siswa dapat mengamati objek ditempat dimana objek itu berada, dalam situasi yang asli.
e)      Siswa dapat mengetahui bagaimana cara mengobservasi suatu objek dengan baik, memupuk kebiasaan mengamati dengan teliti.
f)       Memiliki prinsip pengajaran modern yang memenfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.[24]
2        Metode Pembelajaran Langsung.
a.      Pengertian Metode Pembelajaran Langsung.
Metode pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk penunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik.
Pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, yakni dengan memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi yang terencana.[25]
Jadi penggunaan pembelajaran langsung yaitu dengan didemonstrasikan atau diajarkan langsung oleh guru, dan kemudian menyediakan waktu bagi siswa untuk mengaplikasikan materi yang sudah didemonstrasikan atau diajarkan oleh guru.
Istilah pembelajaran langsung juga disebut dengan pembelajaran aktif.
Ciri-ciri metode pembelajaran langsung yaitu sebagai berikut :
1)      Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.
2)      Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3)      Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlakukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.
Selain itu pembelajaran langsung juga mempunyai beberapa persyaratan, yaitu :
1)      Ada alat yang akan di demonstrasikan.
2)      Harus mengikuti tingkah laku mengajar.[26]
b.      Langkah-langkah Metode Pembelajaran Langsung
1)      Menyampaikan tujuan
Menyampaikan tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskannya yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta lokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap
2)      Menyiapkan siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
3)      Presentasi dan demonstrasi
Melakukan presentasi atau demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif.
4)      Kejelasan presentasi.
5)      Melakukan demonstrasi
Agar dapat mendemonstrasikan suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil, guru perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai komponen-komponennya.
6)      Mencapai pemahaman dan penguasaan.
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi.
7)      Berlatih.
Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif, dan memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.
8)      Memberikan latihan terbimbing.
Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru.
9)      Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
Guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswadan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini merupakan aspek penting dalam pembelajaran langsung, karena tanpa mengetahui hasilnya, latihan tidak benyak manfaatnya bagi siswa.
10)  Memberikan kesempatan latihan mandiri.
Pada tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini ddilakukan oleh siswa secara pribadi yang dilakukan dirumah atau di luar jam pelajaran.[27]
Dari langkah-langkah diatas ada perbedaan struktur antara buku dari pengarang Husniyatus Salamah Zainiyati dengan buku dari pengarang Aris Shoimin. Jika pada buku Husniyatus Salamah Zainiyati mempunyai 10 langkah dalam penerapan metode pembelajaran langsung. Sedangkan dalam buku pengarang dari Aris Shoimin hanya mempunyai 5 langkah saja, yaitu sebagai berikut :
1)      Menyampaikan tujuan.
Dalam fase ini meliputi :
a)      Kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
b)      Menyampaikan tujuan pembelajaran.
c)      Memberi penjelasan atau arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan.
d)     Menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran.
e)      Menginformasikan kerangka pelajaran.
f)       Memotivasi siswa.
2)      Presentasi atau demonstrasi.
a)      Penyajian materi dalam langkah-langkah.
b)      Pemberian contoh konsep.
c)      Pemodelan atau peragaan keterampilan.
d)     Menjelaskan ulang hal yang dianggap sulit atau kurang dimengerti oleh siswa.
3)      Latihan terbimbing.
Guru merencanakan dan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan latihan-latihan awal. Guru memberikan penguatan terhadap respons siswa yang benar dan mengoreksi yang salah.
4)      Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik.
Siswa diberi kesempatan untuk berlatih konsep dan keterampilan serta menerapkan pengetahuan atau keterampilan tersebut ke situasi kehidupan nyata. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan guru untuk mengakses kemampuan siswa dalam melakukan tugas dengan baik atau tidak, serta memberikan umpan balik. Guru memonitor dan memberikan bimbingan jika perlu.
5)      Latihan mandiri.
Siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri. Fase ini dapat dilalui siswa dengan baik jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85%-90% dalam fase latihan terbimbung. Guru memberikan umpan balik bagi keberhasilan siswa.[28]
c.       Kelebihan Metode Pembelajaran Langsung
1)      Guru lebih dapat menegndalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa yang sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
2)      Menekankan kegiatan mendengarkan dan kegiatan mengamati sehingga membantu siswa yang cocok belajar dengan cara ini.
d.      Kekurangan Metode Pembelajaran Langsung
Sangat bergaantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang kurang baik cenderung menjadikan pembelajaran yang kurang baik pula.[29]
e.       Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran Kontekstual.
1)      Model Pembelajaran Demonstrasi.
a.      Pengertian Model Pembelajaran Demonstrasi.
Model pembelajaran demonstrasi adalah model mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, atauran, dan urutan melakukan sesuatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
b.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.
3.      Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan.
4.      Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
5.      Seluruh siswa memerhatikan demonstrasi dan menganalisis.
6.      Tiap siswa mengemukakan hasil analisis dan mendemonstrasikan pengelaman.
7.      Guru dan siswa membuat kesimpulan.
8.      Penutup.
c.       Kelebihan Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.      Membantu anak didik memehami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2.      Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3.      Kesalahan-kesalahan yang terjadi hasil dari ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret dengan menghadirkan objek sebenarnya.
d.      Kekurangan Model Pembelajaran Demonstrasi.
1.      Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang diperuntukkan kepadanya.
2.      Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3.      Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.[30]
3        Metode Pembelajaran Quantum.
a.    Pengertian Metode Pembelajaran Quantum.
Metode pembelajaran quantum adalah metode belajar yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang ada di dalam kelas.
Metode pembelajaran quantum menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan, dengan cara melibatkan semua unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Metode pembelajaran quantum akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat untuk terus belajar dengan semangat tinggi. Guru harus berusaha membuat suasana kelas menyenangkan dengan menunjukkan ekspresi wajah yang ceria, dan memberikan respons positif terhadap setiap hal positif yang dilakukan siswa.
b.      Prinsip Metode Pembelajaran Quantum.
1)        Segalanya berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahan pelajara. Semuanya menyampaikan tentang materi yang akan diberikan.
2)        Segalanya bertujuan.
Semua kegiatan yang akan diberikan sebaiknya sesuai dengan tujuan.
3)        Pengelaman sebelum pemberian nama.
Siswa dianjurkan untuk mencari sebanyak mungkin informasi seputar materi yang diberikan.
4)        Akui setiap usaha.
Guru harus menghargai semua usaha siswa walaupun usaha tersebut kecil.
5)        Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan.
Guru memberikan pujian pada siswa yang terlibat aktif.
c.       Teknik-Teknik Metode Pembelajaran Quantum
1)        Teknik AMBAK.
a)      A          : Apa yang dipelajari.
b)      M          Manfaat.
c)      BAK    : Bagiku.
2)      Teknik TANDUR.
a)      T : Tumbuhkan, tumbuhkan minat siswa dengan memuaskan.
b)      A : Alami, ciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.
c)      N : Namai, sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi.
d)     D : Demonstrasikan, sediakan kesempatan bagi siswa untuk terampil.
e)      U :Ulangi, tunjukkan kepada siswa bagaimana cara mengulang materi secara efektif.
f)       R : Rayakan, guru memberikan apresiasi kepada siswa.
3)      Teknik ARIAS
a)      Assurance (Percaya Diri)
b)      Relevance.
c)      Interest.
d)     Assesment.
e)      Satisfaction.[31]
d.      Kelebihan Metode Pembelajaran Quantum
1)      Prosess pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
2)      Siswa dirangang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukan sendiri.
3)      Pelajaran dari guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.
e.       Kekurangan Metode Pembelajaran Quantum
1)      Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang.
2)      Media tidak selalu tersedia dengan baik.
3)      Banyak memakan waktu dalam hal kesiapan.[32]
f.       Klasifikasi Model Pembelajaran dalam Metode Pembelajaran Quantum.
1)      Group Investigation (GI).
Group Investigation adalah suatu model pembelajaran yang lebih menekankan pada pilihan dan kontrol siswa daridapa menerapkan teknik-teknik pengajaran diruang kelas. Selain itu juga memadukan prinsip belajar demokratis dimana siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, baik dari tahap awal sampai akhir pembelajaran termasuk didalamnya siswa mempunyai kebebasan untuk memilih materi yang akan dipelajari sesuai dengan topik yang sedang dibahas. Diantara model-model belajar yang tercipta, Group Investigation merupakan salah satu model pembelajaran yang bersifat demokratis karena siswa menjadi aktif belajar dan melatih kemandirian dalam belajar.
Langkah-langkah pelaksanaan metode Group Investigation :
a)      Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen.
b)      Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok yang harus dikerjakan.
c)      Guru mengundang ketua-ketua kelompok untuk memanggil materi tugas secara kooperatif dalam kelompoknya.
d)     Masing-masing kelompok membahas materi tugas secara kooperatif dalam kelompoknya.
e)      Setelah selesai, masing-masing kelompok yang diwakili ketua kelompok salah satu anggotanya menyampaikan hasil pembahasan.
f)       Kelompok lain dapat memberikan tanggapan terhadap hasil pembahasan.
g)      Guru memberikan penjelasan singkat bila terjadi kesalahan konsep dan memberikan kesimpulan.
h)      Evaluasi.
Kelebihan pelaksanaan metode Group Investigation        :
a)      Dalam proses belajarnya dapat bekerja secara bebas.
b)      Memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif.
c)      Dapat belajar untuk memecahkan dan menangani suatu masalah.
d)     Mengembangkan antusiasme dan rasa pada fisik.
Kekurangan pelaksanaan metode Group Investigation     :
a)      Sedikitnya materi yang disampaikan pada satu kali pertemuan.
b)      Sulitnya memberikan penilaian secara personal.
c)      Tidak semua topik cocok untuk diterapkan dengan metode pembelajaran tersebut.
d)     Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif.
e)      Siswa yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami kesulitan saat menggunakan model ini.[33]
2)      Model Pembelajaran Talking Stick.
model pembelajaran talking stick ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik mempelajari materi pokoknya.
Pembelajaran talking stick ini mendorong peserta didik untuk berani mengamukakan pendapat. Pembelajaran ini diawali denga penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari.
Langkah-langkah penggunaan pembelajaran talking stick yaitu :
a)      Guru menjelaskan materi yang akan diberikan.
b)      Guru menjelaskan struktur model pembelajaran yang akan digunakakn oleh guru agar siswa faham.
c)      Guru meminta kepada semua siswa untuk saling lempar melempar tongkat yang diberikan oleh guru dari satu siswa ke siswa lainnya.
d)     Guru dapat memberikan variasi dengan menyanyikan satu lagu sembari dengan melempar tongkat secara urut dari siswa satu ke siswa lain.
e)      Bagi siswa yang telah memegang tongkat dengan berakhirnya lagu yang dinyanyikan, siswa akan diberikan pertanyaan dan siswa tersebut harus menjawab.
f)       Siswa yang lain memperhatikan dan guru boleh memvariasikan dengan cara siswa yang lain mencatat apa pertanyaan dari guru dan jawaban dari siswa.
g)      Pembelajaran tersebut dapat diulang sesuai dengan keinginan.
h)      Guru menyimpulkan materi.
Kelebihan dari pembelajaran talking stick yakni :
a)      Menguji kesiapan siswa dalam pembelajaran.
b)      Melatih siswa memahami materi.
c)      Siswa berani dalam mengemukakan pendapat.
Kekurangan pembelajaran talking stick yakni :
a)      Membuat siswa senam jantung.
b)      Siswa tidak siap dan tidak bisa menjawab.
c)      Membuat siswa menjadi tegang.[34]



[1] Agus Kurniawan, Pengertian Tujuan dan Manfaat Klasifikasi, http://ahmadaguskurniawan.blogspot.co.id/. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2015.

[2] Era Zul, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran, https://plus.google.com/116281639767505119702. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2015.

[3] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2012), h. 190.
[4] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.143-144.
[5] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 191.
[6] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif (Suarabaya : IAIN Press, 2012),.h.144-145.
[7] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013 (Rembang:Ar-Ruzz Media,2014), h. 42.
[8] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 192.
[9] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.152.
[10] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid.
[11] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.154.
[12] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid.
[13] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.153.
[14] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 195
[15] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.155.
[16] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran., Ibid. h. 196.
[17] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.
[18] Dr. Rusman, M.Pd, Model-model pembelajaran, Ibid,. h. 187-198.
[19] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid,. h. 44.
[20] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 161-163.
[21] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 170-174.
[22] Mulyono, Strategi Pembelajaran, h. 112.
[23] Tim Didaktik IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum Pbm, (Jakarta:Raja Grafinda Persada, 1993). h. 46.
[24] Syaiful Bahri dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), h. 94 .
[25] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif, Ibid., h. 83-90.
[26] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Surabaya:Kencana Prenada Media Group,2009), h. 41-42
[27] Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,.Ibid.h.91-96.
[28] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 64-66.
[29] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 66-67.
[30] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 62-63.
[31] Ahmad Munjin Nasih, DKK, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Surabaya : Refika Aditama, 2009), h. 117-125.
[32] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Ibid., h. 145-146.
[33] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, Ibid., h. 81.
[34] Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, Ibid., h. 197-199.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar